Sabtu, 24 Desember 2011

Majlis Sambutan Maal Hijrah 1433H

Majlis sambutan Maal Hijrah tahun ini disambut pada 23 Disember 2011 / 27 Muharram 1433H, dengan penuh semangat yang menjurus kepada penghijrahan secara psikomotor atau berhijrah secara lahiriah. Majlis sambutan berkembar antara Jamuan kesyukuran kerana berjaya mendapat johan dalam pertandingan masjid terbaik bagi masjid luar bandar seluruh Kelantan tahun 1432H.
Dimulai sejak pagi dengan persediaan memasak gulai lembu, diikuti persembahan pelajar dalam bentuk bacaan Al-Quraan, diklamasi sajak Hijrah dan persembahan lagu-lagu nasyid oleh dua kumpulan nasyid masjid.
Pada sebelah malamnya, selepas solat Maghrib, diadakan upacara perasmian program Klinik A-Quran diikuti dengan pelancaran derma Tabung Pembangunan masjid khas untuk belanja pemesangan alat hawa dingim dan keceriaan kubur.
Program ceramah umum bertema Maal Hijrah disampaikan oleh Al-Ustaz Hj Muhamad Rosli bin Husain.
Acara yang paling mendebarkan ialah pengistiharan tokoh Maal Hijrah peringkat mukim Chabang Empat. Tokoh Maal Hijrah muslimin didianugrahkan kepada Yang mulia, Hj Mat Nawi bin Ismail dan tokoh Maal Hijrah Muslimin dikurnikan kepada Hjh Siti Mariam binti Sidek, balu kepada Allahyarham Hj Awang bin Senik yang mendapat anugrah yang sama pada tahun lalu.

Sabtu, 30 Juli 2011

MAKNA TAKWA

Makna Taqwa

Mengikut Imam al-Ghazali rahimahullah, kalimah taqwa yang terdapat di dalam al-Quran al-Karim membawa tiga makna: .

~ Pertama, bermakna takut, gerun atau ngeri (haybah). Antara firman Allah Taala yang tersisip kalimah takwa yang membawa makna tersebut ialah: Dan bertakwalah (takutilah) suatu hari yang kamu akan dikembalikan kepada Allah. (2 : 281)

~ Kedua, bermakna taat. Contohnya seperti yang terdapat dalam firman Allah yang maksudnya: Hai sekalian orang yang beriman, bertakwalah (taatlah) kepada Allah dengan sebanr-benar takwa (taat). (3 : 102)

~ Ketiga, mengandungi maksud, menyucikan hati daripada dosa. Contohnya dalam firman Allah yang mafhumnya: Dan sesiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beroleh kemenangan. (24 : 52)

Kalimah "bertakwa" dalam ayat terakhir di atas bukan lagi bermakna taat atau takut, kerana kalimah-kalimah "taat" dan "takut" telah disebutkan sebelumnya. dalam ayat di atas. Jadi "bertakwa" dalam ayat di atas bermaksud, menyucikan hati daripada dosa. Makna yang ketiga inilah merupakan takrif kepada istilah takwa. Mengikut para ulamak: "Takwa itu ialah menyucikan hati daripada dosa, sehingga menguatkan azam untuk meninggalkan dosa dan seterusnya memelihara diri daripada segala maksiat".

Imam al-Ghazali membuat kesimpulan : Bahawa takwa itu ialah menjauhkan setiap apa yang ditakuti akan membawa mudharat kepada agama. Bandingannya ialah berpantang bagi orang yang mengidapi penyakit. Adapun berpantang daripada melakukan perkara-perkara yang membawa kerosakan kepada agama pula ialah "bertakwa".

"Taqwa ialah ketundukan dan ketaatan terhadap perintah Allah dan menjauhi segala apa yang ditegahNya."

Minggu, 24 Juli 2011

TAZKIRAN AWAL RAMADHAN 1432H

Alhamdulillah, masih sempat lagi jiwa ini berenak-enak dalam damai bayu Ramadhan 1432H. Selepas 11 purnama meninggalkan Ramadhan yang lalu, tidak pasti, apakah tarbiyah Ramadhan 1410H berbekas pada akhlak dan budi. Sungguh kerdil manusia di sisi Allah s.w.t. Cakap berdegar-degar, tetapi aplikasinya tidak seberapa.
Setiap kali Ramadhan bermula, maka kita diingatkan bahawa Ramadhan ialah satu madrasah. Satu sekolah. Sekolah untuk mendidik manusia menghayati tauhid kepada Allah s.w.t.. Sekolah untuk mengawal nafsu pada saat syaitan dirantai. Sekolah untuk membentuk jiwa agar sentiasa dekat dan rindu Tuhan pencipta. Sekolah untuk memfokuskan setiap tingkah laku supaya diiktiraf sebagai satu ibadat kepada Allah s.w.t.
Ramadhan ini, berhentilah tanam keazaman yang baru!
Ya, berhenti tanam azam yang baru. Untuk apa bina keazaman yang baru jika sekolah Ramadhan yang lama pun ibarat sekolah swasta yang mahal yang ada guru, ada buku, ada undang-undang, tetapi pelajar-pelajarnya berlagak dan sombong pada pentadbiran sekolah? Oh, kitakah pelajar-pelajar itu?
Sekolah Ramadhan lalu, ada gurunya iaitu Allah s.w.t. yang menyiapkan untuk kita akidah dan syariat terluhur, ada bukunya iaitu al-Quran yang sarat dengan panduan dan pengkisahan yang penuh iktibar, serta ada undang-undangnya iaitu syariat yang terbentuk daripada sumber primer dan sekunder. Ia satu pakej lengkap! Tinggal kita yang setiap nama kita didaftarkan secara rasmi sebagai pelajar-pelajar sekolah Ramadhan… Ada kalanya kita culas, malas, ketegaq, mengelat, mengulaq dan bosan dengan syariat terindah itu.

Sabtu, 23 Juli 2011

SIFAT-SIFAT IBADURRAHMAN (ORANG YANG MENDAPAT RAHMAT ALLAH)

oLEH : Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A.

Pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 menggambarkan, bahwa ada sebelas sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Menurut Allah, orang-orang beriman yang memiliki sebelas sifat tersebut memperoleh gelar ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang akan mendapatkan rahmat yang paling besar di sisi Allah SWT. Rahmat-rahmat Allah yang paling besar tersebut yaitu kedudukan atau derajat-derajat yang paling tinggi yang diperoleh oleh mereka di surga kelak.
Orang-orang yang beriman itu harus melaksanakan seluruh kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka. Apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban tersebut, maka mereka akan mendapatkan siksaan yang amat pedih dari Allah SWT. Sebaliknya, apabila mereka menunaikan kewajiban-kewajiban yang diberikan tersebut, maka mereka akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Sifat-sifat yang dikemukakan di sini adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman setelah menunaikan berbagai kewajiban yang diwajibkan kepada mereka. Seperti yang termaktub pada Surah al-Furqaan ayat 63-77, sebelas sifat yang dimaksud tersebut adalah:
Pertama, sifat tawadhu’.
Kedua, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib).
Ketiga, yaitu orang beriman yang suka tahajjud di malam hari.
Keempat, yaitu merasa takut akan siksa Allah SWT.
Kelima, yaitu sederhana (moderat) di dalam berinfaq.
Keenam, menjauhkan diri dari sifat syirik
Ketujuh, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT.
Kedelapan, menjauhkan diri dari perbuatan berzina.
Kesembilan, menjauhkan diri dari bersaksi palsu.
Kesepuluh, senang menerima nasehat yang baik
Kesebelas, senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah.


Pertama, sifat tawadhu’.
Tawadhu’ adalah lawan dari sifat takabbur. Tawadhu’ adalah sifat yang selalu merendah, merupakan sifat yang sangat disukai oleh Allah. Jika orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang sangat disukai oleh Allah, maka orang yang memiliki sifat takabbur adalah orang yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Di dalam suatu hadits disebutkan, jika ada seseorang yang di dalam dirinya terdapat sifat sombong walaupun hanya sebesar biji zarrah (biji sawi), maka Allah akan mengharamkan surga baginya.
Takabbur adalah orang yang menganggap dirinya besar, padahal dia tidak besar. Orang yang mengaku memiliki banyak hal, tapi sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa. Padahal kata Allah, bahwa apa yang mereka miliki itu tidak ada maknanya sedikitpun. Karena itulah, mereka menambahkan sifat di dalam dirinya dengan apa yang tidak mereka miliki. Untuk menjadikan diri kita tawadhu’ adalah dengan berpandangan bahwa apa yang kita miliki tidak ada arti apa-apa dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Allah SWT.
Sifat sombong adalah sifat yang merupakan fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki sifat sombong. Hanya saja, ada orang yang membiarkan kesombongannya menjadi subur, dan ada juga yang bisa menahan kesombongannya, sehingga kesombongannya tidak pernah muncul.
Firman Allah pada Surah Al-Furqaan ayat 63:
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (Q.S. Al-Furqaan: 63)
Pada ayat tersebut dengan jelas menyebutkan, bahwa ‘ibaadurrahman itu adalah mereka yang berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tawadhu’, dalam keadaan tunduk, dalam keadaan merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang sangat kecil, tak mempunyai kekayaan apapun, tak memiliki ilmu apapun, walaupun orang lain memandang bahwa dirinya adalah orang yang berilmu, orang yang kaya, ataupun orang yang memegang jabatan tinggi.
Pertanyaannya, mampukah kita bersikap tawadhu’? Harus diingat, bahwa sikap takabbur itu akan muncul kapanpun dan di manapun. Jika kita tidak berhati-hati, maka sikap tersebut akan menjadi subur, akan berkembang dengan sendirinya karena kondisi dan keadaan di mana kita hidup. Karena itulah, menurut Rasulullah, sombong terhadap orang yang sombong itu adalah sebuah kebajikan sedekah. Mengapa? Karena kalau kita menahan kesombongan seseorang, sebenarnya kita mendekatkan orang tersebut kepada surga. Karena, jika ada kesombongan di dalam hati seseorang, maka diharamkan kepadanya untuk mendapatkan surga. Jika kita sombong terhadap orang yang sombong sehingga orang tersebut menjadi tidak sombong, maka sebenarnya kita telah menjauhkannya dari neraka dan mendekatkannya kepada surga.
Kedua, selalu mengucapkan ucapan-ucapan yang baik (al-kalamuth thayyib).
Maksudnya adalah, bahwa orang tersebut senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, walaupun orang lain selalu mengejeknya dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan. Artinya, bahwa ‘ibaadurrahman adalah orang-orang yang senantiasa mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik, senantiasa bersikap dengan sikap yang baik, senantiasa menimbulkan kebajikan-kebajiikan walaupun di tengah orang-orang yang tidak mau berbuat kebajikan kepadanya.
Biasanya, jika mendengar ada orang yang mengejek kita, maka kita akan membalasnya dengan ucapan-ucapan yang lebih kasar dibandingkan orang yang mengejek kita tersebut. Kalau ada yang memaki kita, maka kita akan membalasnya lebih dari satu kali makian. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita sebanyak sekali, maka kita akan membalasnya lebih dari sekali. Itulah fitrah manusia.
Dalam ayat ini disebutkan, bahwa jika ada orang-orang yang bodoh yang menyapa dia, kalau ada orang-orang yang mengejek dia dengan kalimat-kalimat yang tidak mengenakkan baginya, maka dia akan menyampaikan kalimat-kalimat yang baik kepada orang yang mengejeknya itu. Tapi secara fitri, hal ini tak mudah untuk dilakukan. Malahan sebaliknya, seringkali perbuatan kebajikan dibalas dengan kejahatan (air susu dibalas dengan air tuba).
Rasulullah menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang-orang yang apabila diputuskan hubungan silaturahmi, maka ia tidak akan memutuskan hubungan tersebut. Misalkan: ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, tapi kita tetap mendatangi rumah orang tersebut. Hal ini tak mudah untuk dilakukan, karena biasanya jika ada orang yang tidak mau datang ke rumah kita, maka kita akan semakin menjauhi orang tersebut.
Rasulullah juga menyatakan, bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang suka memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadanya.
Ketiga, yaitu orang beriman yang suka tahajjud di malam hari.
Firman Allah pada Al-Furqaan ayat 64:
Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (Q.S. Al-Furqaan: 64)
Bangun di malam hari setelah tidur, untuk kemudian melakukan shalat tahajjud bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi apabila kita membiasakan diri, maka secara otomatis pada saatnya kita akan terbangun, sehingga hal seperti ini mudah saja untuk dilakukan. Mengapa tahajjud ini penting? Karena jika ibadah dilakukan di tempat yang sepi, maka konsentrasi kita akan lebih terpusat, dibandingkan ibadah di tengah keramaian.
Menurut pandangan para ulama, shalat tahajjud merupakan shalat sunnat muakkad, yaitu shalat sunnat yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah. Shalat sunnat tahajjud biasa dilakukan paling tidak dua raka’at, umumnya dilakukan delapan raka’at, ditambah dengan witir tiga raka’at. Begitu besar pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa melaksanakan shalat tahajjud, karena tidak banyak orang yang mampu melakukan shalat tahajjud itu pada setiap malamnya.
Keempat, yaitu merasa takut akan siksa Allah SWT.
Firman Allah pada Al-Furqan ayat 65-66:
(65) Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal“.
(66) Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (Q.S. Al-Furqaan: 65-66)
Orang yang senantiasa takut terhadap azab Allah, maka akan menyebabkannya selalu mematuhi dan mentaati perintah-perintah Allah dan senantiasa meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an digambarkan, bahwa di saat menghadapi sakaratul maut, maka bagi mereka yang belum memiliki persiapan menghadapi alam kubur dan alam akhirat itu lalu meminta kepada Allah untuk menunda kematiannya, karena mereka belum banyak melakukan ibadah kepada Allah. Lalu Allah menjawab, “Apabila ajal mendatangi seseorang, maka ajal tersebut tak bisa diundur dan tidak juga bisa dipercepat.”
Jika kita selalu mengingat akan azab Allah, maka pada saat itulah keinginan kita akan muncul untuk melakukan ibadah kepada-Nya. Patut diingat, bahwa azab yang kita terima tak pernah ada habisnya. Dimulai pada saat kita menjalani sakaratul maut, kemudian berlanjut ketika berada di dalam kubur. Kemudian terus berlanjut hingga ketika dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar. Menurut riwayat, bahwa di padang mahsyar nanti matahari itu sejengkal di atas kepala, dan manusia pada saat itu kondisinya berbeda-beda. Ada yang selalu merasa dingin dan sejuk, walaupun matahari berada di atas kepalanya. Ada juga yang merasa badannya terbakar, karena dibakar oleh matahari.
Pendeknya, ketika di padang mahsyar, maka manusia sudah merasakan alam atau suasana yang berbeda sesuai dengan amal kebajikannya. Bagi yang mendapatkan siksaan, maka siksaan tersebut akan terus berlanjut. Ketika berada di dalam neraka, siksaan tersebut takkan pernah ada habisnya. Setelah kulitnya terbakar oleh api neraka, kemudian kulit tersebut diganti lagi dengan yang baru. Setelah itu dibakar lagi, kemudian diganti lagi, dan begitu seterusnya tak pernah berhenti.
Seorang muslim yang baik yang akan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat nanti adalah mereka yang senantiasa ada di dalam dirinya itu rasa takut terhadap siksaan Allah SWT. Dan karena rasa takut akan siksaan Allah itulah, maka kita akan menjadi orang yang senantiasa patuh terhadap perintah-Nya.
Kelima, yaitu sederhana (moderat) di dalam berinfaq.
Firman Allah pada Al-Furqan ayat 67:
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al-Furqan: 67)
Pada ayat di atas dengan jelas menyebutkan, apabila manusia atau orang yang beriman yang ingin membelanjakan sesuatu, maka ketika membelanjakan tersebut dia tidak boleh terlalu boros, dan juga tidak boleh terlalu kikir.
Di dalam ayat lain Allah menyebutkan:
Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al-Israa’: 26)
Jadi, tidak boleh ada sikap boros, dan tidak boleh juga kikir, melainkan berada di tengah-tengah (moderat). Kalau kita berbelanja, maka belanjalah sesuai dengan keperluan. Kalau bersedekah, jangan sampai memberikan sedekah terlalu banyak. Hanya karena bangga dengan pahala bersedekah sehingga kita bersedekah terlalu banyak, sedangkan kita lupa akan kebutuhan kita sendiri.
Allah juga mengingatkan, bahwa orang-orang yang bersifat boros itu adalah saudara-saudaranya syaitan, seperti yang termaktub pada Surah Al-Israa’ ayat 27 berikut ini:
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Israa’: 27)
Tetapi jangan juga karena mengingat akan kebutuhan kita, lalu kita tidak mau mengeluarkan apa yang kita miliki, hingga zakat sekalipun tidak mau dikeluarkan. Itulah orang yang kikir sebenarnya. Dalam hal ini, kita harus bersikap moderat, tidak kikir dan tidak juga boros, namun berada di antara keduanya (moderat).
Pada Surah Al-Israa’ ayat 29 juga disebutkan:
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al-Israa’: 29)
Jadi, jangan juga kita membelanjakan sesuatu sampai habis, dan jangan pula kita enggan membelanjakan apa yang ada pada diri kita. Hal ini tak mudah dilaksanakan, karena pada umumnya manusia itu bersifat konsumtif. Sifat konsumtif yang tak bisa ditahan yang kemudian menjadi-jadi, itulah yang disebut pemborosan. Tapi kalau menahannya juga menjadi-jadi, itulah yang dinamakan kikir. Di dalam hadits Nabi juga disebutkan, bahwa: “Urusan yang terbaik adalah urusan yang di tengah-tengah.”
Keenam, menjauhkan diri dari sifat syirik.
(68) Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya).
(69) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.
(70) kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(71) Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
(Q.S. Al-Furqan: 68-71)
Syirik itu pada hakikatnya adalah sifat yang senantiasa menyekutukan Allah. Seseorang yang menganggap bahwa selain Allah itu ada tuhan yang lain lagi, maka dapat dikategorikan sebagai syirik. Kalau seseorang melakukan penyembahan terhadap Allah, tapi dalam suasana yang lain dia juga melakukan penyembahan terhadap yang selain Allah, maka itu juga dapat disebut sebagai syirik. Menurut ulama, syirik yang seperti ini dinamakan syirik akbar (syirik besar). Syirik akbar adalah syirik yang berupa menyekutukan Allah SWT dengan sembahan atau penyembahan yang selain dari Allah.
Kemudian ada juga yang dinamakan syirik asghar (syirik kecil). Menurut para ulama, syirik asghar salah satunya adalah riya’. Mengapa? Karena ketika beribadah, yang ia harapkan bukanlah keridhaan Allah, tetapi karena sesuatu yang selain dari Allah. Ibadah yang dilakukannya bukanlah diniatkan untuk Allah, tetapi karena yang selain Allah. Kalau ada seseorang yang melakukan shalat bukan karena Allah, tetapi karena yang lain, maka inilah yang disebut sebagai syirik asghar.
Berkaitan dengan syirik akbar, di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan, bahwa mereka yang syirik itu apabila mati, maka dosa karena syiriknya tersebut tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Dosa tersebut takkan pernah diampunkan oleh Allah, jika saat ia meninggal dunia tak pernah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa syiriknya itu. Karena itu, banyak sekali hal-hal yang menjauhkan seseorang dari surga, salah satu di antaranya adalah syirik.
Di dalam Al-Qur’an disebutkan:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An-Nisaa: 48)
Ketujuh, menjauhkan diri dari melakukan perbuatan membunuh yang diharamkan oleh Allah SWT.
Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik, melakukan pembunuhan terhadap orang lain juga merupakan perbuatan dosa besar. Berkaitan dengan ini, ada juga orang yang melakukan pembunuhan, tetapi pembunuhan itu atas perintah hukum. Pembunuhan jenis ini tidak dikategorikan sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Misalnya, ada seseorang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain, lalu dia itu diadili oleh hakim, dan hakim memutuskan bahwa dia akan juga dibunuh dengan hukum qishash. Maka mereka yang melakukan eksekusi hukuman mati terhadap orang yang dikenai hukum qishash tersebut tidaklah dikategorikan dalam rangka membunuh sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT, karena eksekusi hukuman mati tersebut berdasarkan perintah hukum.
Dalam kaitan dengan hukum qishash ini, ada ketentuan-ketentuan tertentu yang berlaku. Misalnya: dalam sebuah negara, jika negara memutuskan berdasarkan keputusan pengadilan bahwa si A akan dihukum qishash, maka itu tidak dianggap sebagai pembunuhan yang dilarang oleh Allah. Tetapi jika ada sekelompok orang di dalam sebuah negara yang mereka (orang-orang itu) memberlakukan hukuman qishash kepada seseorang tanpa adanya keputusan pengadilan yang sah, maka hal ini dikategorikan bukanlah pelaksanaan hukuman qishash yang sesuai dengan tuntunan syari’ah. Karena itu, bagi mereka yang memberlakukan pembunuhan seperti ini, maka mereka telah melakukan pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh.
Berkaitan dengan ini, Allah mengingatkan, bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang, maka seolah-olah dia itu telah membunuh semua manusia, seperti termaktub pada ayat berikut ini:
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maidah: 32)
Kedelapan, menjauhkan diri dari perbuatan berzina.
Seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqan ayat 68, bahwa selain syirik dan membunuh, melakukan perzinahan juga merupakan perbuatan dosa besar. Karena itu, bagi pelakunya akan diberikan siksaan yang berlipat ganda oleh Allah di akhirat nanti, seperti yang termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 69: (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.
Tetapi pada Surah Al-Furqaan ayat 70 dan 71 memberikan kabar gembira kepada kita: [70] kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [71] Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Furqan: 70-71)
Yang dimaksud pada ayat tersebut, jika sudah pernah terjadi hal-hal yang seperti itu (syirik, pembunuhan, dan zina), maka Allah membukakan pintu taubat, lalu bertaubatlah kepada Allah. Tapi pernyataan ini jangan dipelintir. Kalau begitu syirik dulu, baru kemudian bertaubat, karena Allah pasti akan mengampuni. Kalau begitu membunuh dulu, nantikan Allah akan membukakan pintu taubat. Kalau begitu berzinah dulu, nanti malam shalat lail kemudian berdo’a, minta ampun dan bertaubat, maka Allah akan mengampuni. Tentunya bukan ini sebenarnya yang dimaksud.
Itulah sebabnya, bagi manusia yang bersalah, apabila dia bertaubat, maka kesalahannya itu akan dihapuskan oleh Allah SWT. Setelah dosa dan kesalahannya dihapuskan oleh Allah SWT, maka kalau bertaubat lagi, maka akan ada tumpukan pahala dari taubatnya yang akan diberikan oleh Allah. Jika ia bertaubat lagi, sedangkan dosanya sudah tidak ada lagi, maka pahala bertaubatnya akan ditambahkan lagi oleh Allah SWT. Karena itulah, tindakan bertaubat dan beristighfar itu tidak hanya dilakukan setelah kita melakukan perbuatan-perbuatan dosa, tetapi kalau memungkinkan di sepanjang kehidupan kita selalulah kita bertaubat.
Perbuatan zina adalah perbuatan dosa besar yang menurut Rasulullah, bahwa orang yang berzina itu tidak layak kalau diundang untuk menghadiri sebuah majelis. Ini merupakan siksaan sosial.
Kesembilan, menjauhkan diri dari bersaksi palsu.
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Q.S. Al-Furqaan: 72)
Saksi palsu bisa muncul kapan saja. Hal ini biasanya terjadi apabila dengan menjadi saksi palsu itu maka akan mendapatkan keuntungan. Sekarang ini banyak sekali terjadi orang yang memberikan kesaksian palsu. Misalkan: sebenarnya kasus tersebut seharusnya dimenangkan oleh pihak A, tapi hakim kemudian memberikan kemenangan kepada pihak B, karena semua saksi memberatkan pihak A. Dalam hal ini, mereka yang menjadi saksi palsu itu sudah melakukan dosa besar. Menjadi saksi palsu itu membahayakan kemaslahatan di dalam masyarakat.
Kesepuluh, senang menerima nasehat yang baik.
Dikatakan oleh Al-Qur’an:
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (Q.S. Al-Furqaan: 73)
Jadi, orang yang termasuk kategori orang beriman yang mendapat gelar ‘ibaadurrahman itu adalah orang yang senantiasa menerima nasehat-nasehat yang baik yang diberikan oleh orang lain, orang yang senantiasa mendapatkan pengajaran dan pelajaran dari orang-orang yang memberikan pelajaran-pelajaran yang baik. Termasuk di dalam hal ini adalah orang yang senang mencari ilmu adalah orang yang senang menerima nasehat.
Kesebelas, senantiasa berdo’a dan bermunajjat kepada Allah.
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqaan: 74)
Bukan hanya berdoa untuk dirinya, juga berdoa untuk keluarganya, untuk anak cucunya agar menjadi orang-orang yang baik dan orang-orang yang shaleh di belakang hari. Orang-orang yang seperti ini dikatakan oleh Al-Qur’an adalah orang-orang yang akan mendapatkan ganjaran yang paling tinggi di surga nanti yang akan diberikan oleh Allah SWT, seperti termaktub pada Surah Al-Furqaan ayat 75-77:
(75) Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,
(76) mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
(77) Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.
(Q.S. Al-Furqaan: 75-77)
Kesebelas hal ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tetapi marilah kita melatih diri dan membiasakan untuk memiliki kesebelas sifat dan sikap ini, seperti yang diungkapkan Al-Qur’an pada Surah Al-Furqan ayat 63-77 ini. [hAns]

Minggu, 26 Juni 2011

PELANTIKAN AHLI SUKARELAWAN MASJID

Tumpat, 25 Jun. Satu majlis menyampaian cenderamata dan sijil kepada ahli masjid telah dijalankan di Masjid Khairiah, mukiam Chabang Empat, Tumpat selepas solat maghrib. Majlis yang diadakan sebelum ceramah khas sempena peristiwa Israq Mikraj itu telah menarik perhatian penduduk tempatan. Seramai sembilan pulah orang ahli masjid dan balaisah dalam mukim Chabang Empat menerima saguhati dan sijil. Walau pun saguhati yang tidak seberapa, pemberian itu sungguh bermakna kerana mereka diterima sebagai ahli masjid walau pun pada dasarnya, kedatangannya ke masjid adalah ikhlas kerana Allah.

Pengiktirafan ahli masjid ini adalah bahagian pertama dan selepas ini akan diadakan lagi masjis yang sama kerana amalan kebajikan tidak akan terhad dan sentiasa boleh dilakukan oleh sesiapa sahaja yang mengingininya.

Ahli masjid ini akan disenaraikan dalam database masjid dan akan diserapkan sebagai ahli sukarelawan masjid. Ahli ini akan diberi tugas untuk memantau kebersihan masjid, melakukan kerja-kerja kecerian masjid dan juga akan berusaha mengumpul dana untuk pembangunan masjid. Kecerian masjid ini akan dipantau oleh pihak MAIK dari masa ke semasa.

Selasa, 21 Juni 2011

KEUTAMAAN AHLI MASJID

Program himpunan ahli-ahli masjid adalah satu usaha jawatankuasa masjid ini untuk mewujudkan satu harakah yang dapat menjadi benteng mempertahankan aqidah dikalangan masyarakat setempat. Ahli-ahli masjid akan dipertanggungjawabkan untuk menjaga diri dan keluarga daripada ancaman kekufuran, mewujudkan masyarakat contoh kepada amalan-amalan mulia pancaran dari keimanan dan untuk berdakwah.

Ayat Al-Quraan berbunyi;
أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka” (QS At-Taubah: 17).

Ayat seterusnya berbunyi; "hanyalah orang yang memakmurkan masjid Allah itu ialah mereka yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian, serta tetap mendirikan solat, menunaikan zakat dan tidak takut melainkan hanya kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk dalam golongan yang mendapat petunjuk-Nya." (QS At-Taubah 18).

Ada banyak sandaran hadis berkaitan dengan kelebihan golongan yang menjadi ahli masjid, malah akan sentiasa dinaungi rahmat, dipelihara daripada sebarang bahaya dan terjamin keamanan dan keselamatannya.

Hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda maksudnya: "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah (di Padang Mahsyar) pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya iaitu imam yang adil, pemuda yang membesar dalam keadaan sentiasa beribadah kepada tuhannya, pemuda yang hatinya sentiasa terikat dan terpaut kepada masjid, dua orang pemuda yang berkasih sayang kerana Allah bertemu dan berpisah kerana-Nya, pemuda yang diajak berbuat maksiat oleh wanita cantik dan punya kedudukan tetapi menolak pelawaan itu dengan berkata 'aku lebih takutkan Allah', pemuda yang bersedekah secara rahsia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya dan pemuda yang sentiasa berzikir kepada Allah di tempat sunyi hingga menitis air matanya."

Ayat-ayat Al-Quraan dan hadith di atas menerangkan tentang keutamaan ahli masjid kerana kelebihan-kelebihan berikut :
- Orang yang beriman kepada Allah dan rasulullah serta hari kiamat
- Orang yang menjaga solat
- Orang yang redha dalam mengeluarkan zakat
- Orang yang bertakwa kepada Allah
- Orang yang mendapat petunjuk ke jalan Allah

Jumat, 17 Juni 2011

TANDA-TANDA HAMPIR MATI OLEH ULAMA-ULAMA

Tanda-tanda kematian semakin hampir.
100 hari sebelum mati

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya
akan disedari oleh mereka-mereka yang dikehendakinya.
Walaubagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini cuma
samada mereka sedar atau tidak sahaja. Tanda ini akan berlaku
lazimnya selepas waktu Asar. Seluruh tubuh iaitu dari hujung rambut
sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan
mengigil.
Contohnya seperti daging lembu yang baru disembelih dimana jika
diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut
seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lazat dan bagi mereka sedar
dan berdetik di hati bahawa mungkin ini adalah tanda mati maka
getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sedar akan
kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesedaran atau
mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal
kematian , tanda ini akan lenyap begitu sahaja tanpa sebarang
munafaat. Bagi yang sedar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah
peluang terbaik untuk memunafaatkan masa yang ada untuk
mempersiapkan diri dengan amalan dan
urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

40 hari sebelum hari mati

Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bahagian pusat kita
akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita
akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka
malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mula membuat
persediaannya ke atas kita antaranya ialah ia akan mula mengikuti
kita sepanjang masa. Akan terjadi malaikat maut ini akan
memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka
yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika.
Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk
mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan
dicabutnya.

7 hari

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan
musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-
tiba ianya berselera untuk makan.

3 hari

Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita
iaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dikesan maka
berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis
dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. Ketika
ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang
sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita
melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bahagian
hujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang
terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

1 hari
Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu
denyutan di sebelah belakang iaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini
menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.
Tanda akhir
Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk
dibahagian pusat dan ianya akan turun ke pinggang dan seterusnya akan
naik kebahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah
syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk
menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan
sekarang akan mematikan pula.

PENUTUP

Sesungguhnya marilah kita bertaqwa dan berdoa kepada Allah SWT
semuga kita adalah di antara orang-orang yang yang dipilih oleh Allah yang akan
diberi kesedaran untuk peka terhadap tanda-tanda mati ini semoga kita dapat
membuat persiapan terakhir dalam usaha memohon keampunan samada dari
Allah SWT mahupun dari manusia sendiri dari segala dosa dan urusan hutang
piutang kita. Walau bagaimanapun sesuai dengan sifat Allah SWT yang maha
berkuasa lagi pemurah lagi maha mengasihani maka diriwatkan bahawa tarikh mati
seseorang manusia itu masih boleh diubah dengan amalan doa iaitu
samada doa dari kita sendiri ataupun doa dari orang lain. Namun ianya adalah
ketentuan Allah SWT semata-mata.
Oleh itu marilah kita bersama-sama berusaha dan berdoa semuga kita
diberi hidayah dan petunjuk oleh Allah SWT serta kelapangan masa dan
kesihatan tubuh badan dan juga fikiran dalam usaha kita untuk mencari
keredhaan Allah SWT samada di dunia mahupun akhirat.
Apa yang baik dan benar itu datangnya dari Allah SWT dan apa yang
salah dan silap itu adalah dari kelemahan manusia itu sendiri.
WALLAHUA`LAM
Moga-moga setiap kita dan keluarga diampuni Allah dan diberkati
hidup dan mati hingga dapat mempersiap sediakan bekalan untuk hari kemudian
kita. Bacalah kandungan ini agar dapat menjadi ingatan kita semua.
Insyallah mulalah bertaubat, yang masih malas sembahyang ubah sikap umur kita
semakin hari semakin meningkat. Rezeki dicari biarlah betul-betul halal.
Biar sesal dahulu jangan sesal kemudian. Saya berpesan kepada diri
saya sendiri dan berharap saudara saya semua begitu juga. Cubalah
kita ingat mengingat sesama kita selagi mampu.

******* BILA MALAIKAT MENCABUT NYAWA *******

Baginda Rasullullah S.A.W. bersabda :

“Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai ke lutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu.”
Sambung Rasullullah S.A.W. lagi :

“Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilingnya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S”.

“Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang itu tidak lagi melihat orang disekelilingnya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.”

Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata :

“Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T.”

Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan o! leh lida h orang mukmin itu. Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud :
“Wahai malaikat maut, kamu cabutlah rohnnya dari arah lain.”
Sebaik sahaja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluarlah penulisan ilmu.
Maka berkata tangan :
Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini menusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan.”

Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan, maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata :
“Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik menghadiri majlis-majlis ilmu.”

Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik sahaja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata :
“Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir.”

Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin ini dari arah mata tetapi baru sahaja hendak menghampiri mata, maka berkata mata :
“Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah.”

Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud :
“Wahai malaikatku, tulis Asmaku ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu.”

Sebaik sahaja mendapat perintah Allah S.W.T maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik sahaja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang. Abu Bakar R.A telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A : “Roh itu menuju ketujuh tempat :-

1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke syurga Firdaus
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka.

Si Jin, mereka diseksa beserta jasadnya hingga sampai hari kiamat.”
Telah bersabda Rasullullah S.A.W. :
Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya :-

1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yanf mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang-orang berpuasa di hari Arafah.

Sekian untuk ingatan bersama.
Wassallam.

p/s : Kalau rajin, tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Islam yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati.

Tags: tanda-tanda kematian, mati, meninggal dunia
Posted by rizal at Rabu, Mac 04, 2009
Labels: mati, meninggal dunia, tanda-tanda kematian 0 comments:
Catat Ulasan

Catatan Terbaru Catatan Lama Laman utama
Langgan: Catat Ulasan (Atom)